Salah satu situs berita online yang terkemuka di Indonesia, Tempo saat ini menggunakan domain .CO, dengan alamat lengkap http://www.tempo.co, sepertinya pilihan yang bijak ketimbang harus mengejar domain dengan ekstensi paling populer didunia .Com, kebetulan saat ini Tempo.Com dimiliki oleh seseorang yang pada data whois-nya beralamat di Amerika.

Ini adalah indikasi semakin populernya domain berekstensi .CO, domain yang sejatinya milik dari negara Kolombia. Beberapa domain ekstensi .CO yang terjual sangat mahal adalah G.Co yang dimiliki oleh Google, kabarnya Google mengeluarkan uang sebanyak $1.5 juta, O.Co yang dimiliki oleh OverStock, dibeli seharga $350 Ribu.

Salah satu kesalahan kecil yang ditemukan di website Indonesia adalah tidak mengarahkan alamat domain tanpa www ke situs utama, misalnya bila seseorang mengetikkan alamat website pusatdomain.com di browsernya, tidak diarahkan kealamat utamanya www.pusatdomain.com, sehingga browser akan menampilkan “Error: The Requested URL could not be retrieved”. Masalah kecil, tapi menurut saya sangat menganggu. Bayangkan berapa orang yang mengetik alamat situs tanpa www, dan kecewa ternyata situs yang dia cari tidak ada.
Beberapa situs yang saya temui mengalami hal yang sama , misalnya mnctv.com, rcti.tv, oto.co.id, dan banyak yang lain. Apakah si pengelola tidak menyadari, atau memang tidak tahu tentang hal ini? Atau mungkin juga keberadaan website tidak terlalu penting buat perusahaan tersebut, sehingga website hanya menjadi wadah untuk menampilkan company profile? Tapi dengan konten yang selalu diupdate, mustahil si pengelola menganggap website menjadi hal yang tidak penting untuk promosi perusahaanya. Saya tidak tahu apakah masalah ini karena settingan dari hosting atau pengelola website, tapi dari beberapa hosting yang saya pernah pake, semua naked domain (domain tanpa prefix, mis “www”) dari domain yang di hosting selalu secara otomatis di redirect ke non-naked domain yang menggunakan www.